SUDUTBERITA.com – KUTAI BARAT (Kaltim) | Belum genap sepekan dirazia tim gabungan namun kini sudah nampak pemasangan kembali jaring kelambu Sawaran) tidak standar oleh sejumlah nelayan.

Sebelumnya dilaksanakan razia gabungan terhadap pelaku ilegal fishing dipimpin Kepala Bidang Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kaltim Eko Kurniawan bersama aparat TNI-POLRI di perairan dangkal Danau Jempang Kabupaten Kutai Barat. Rabu 25/8/2021, 

BACA JUGA :

Lakukan Razia Gabungan di Danau Jempang Tim Musnahkan Alat Tangkap Ikan Tidak Standar 

Kepala kampung Tanjung Jone Imansyah melaporkan, tidak selang lama usai razia gabungan sejumlah sawaran  kembali dipasang oleh sejumlah nelayan.

“Saya dengar kemarin ada yang pasang lagi jaring itu. Malah ada yang dirusak tidak dibawa itu mereka pasang lagi waktu petugas pulang,”kata Imansyah melalui sambungan telpon seluler Sabtu (28/8/2021).

 Foto istimewa : Imansyah Petinggi Tanjung Jone Kec. Jempang Kutai Barat

Imansyah menyebut razia yang dilakukan tim tidak tepat sasaran.

“Kalau misalkan petugas turun kan sudah tau itu dimana, siapa siapa aja. Misalnya Muara Ohong yang banyak ya datangi Muara Ohong situ, dari Jantur ya datang ke Jantur,”katanya.

Memang saat mengadakan razia, petugas juga hanya merusak sebagian jaring. Sisanya dibiarkan. Kemudian jaring yang sudah dirusak dan dibawa sebagai barang bukti juga hanya beberapa. Lagi pula tidak ada satupun nelayan pemasang jaring yang ditemui di lokasi.

Sedangkan akibat pemasangan jaring kelambu selain merusak biota sungai, menurut Imansyah telah menelan korban jiwa karena menabrak jaring yang dipasang terlalu panjang.

“Kecelakaan itu tahun 2019 kalau tidak salah, yang kejebak nabrak jaring itu. Bahkan sebelum-sebelumnya ada juga yang tabrak jaring. Karena masyarakat ini kalau misalnya ada urusan mendesak, ada yang sakit keluarganya mereka jalan malam. Yang membahayakan itu kalau mereka tidak lihat,”terang Imansyah.

“Yang meninggal itu orangnya agak tua, kalau tidak salah itu warga Muara Ohong,”tambahnya.

Kekesalan warga nelayan kampung Tanjung Jone dan Pulau Lanting dipicu dikarenakan warga dari luar Kubar yang justru memasang jaring di wilayah perairan Kubar.

Petinggi Tanjung Jone Imansyah maupun petinggi Pulau Lanting Irawan sama-sama menyebut jika jaring kelambu atau sawaran bukan dipasang oleh nelayan asal kecamatan Jempang.
Mayoritas justru dipasang oleh nelayan dari kampung Jantur kecamatan Muara Muntai Kabupaten Kutai Kartanegara.

“Kalau di wilayah kami tidak ada yang pasang sawaran lagi. Memang ada nelayan Jempang tapi kemungkinan yang dari Muara Ohong, itu ada beberapa. Tapi tidak sebanyak ini. Nah yang banyak-banyak ini dari seberang desa Jantur,”ujar Imansyah saat patroli gabungan di danau Jempang pekan lalu.

“Mayoritas dari desa Jantur sehingga masyarakat bereaksi minta izin sama saya untuk melaksanakan kegiatan di sana. Saya tahan, tunggu dulu saya koordinasi dengan pihak berwajib jangan sampai timbul gesekan-gesekan di lapangan nanti juga yang repot kami kalau masyarakat yang bertindak sendiri,”tambah Irawan petinggi Pulau Lanting usai razia.

Foto istimewa: Irawan Petinggi Pulau Lanting Kec. Jempang Kutai Barat

Keresahan warga nelayan kampung Tanjung Jone, Pulau Lanting dan Muara Ohong belakangan kerap terjadi akibat selisih paham antar nelayan. Sebab ada nelayan yang menggunakan alat tangkap tidak standar bahkan Alat Penangkap Ikan (API) yang dilarang. Seperti setrum, sawaran, pukat harimau hingga jaring kelambu.

Sawaran adalah jaring panjang yang dipasang di permukaan air untuk menjebak ikan. Panjangnya bisa mencapai puluhan meter. Sementara jaring  kelambu dipasang mirip kelambu dengan ukuran 1×2 meter hingga puluhan meter. (SB/PSB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *