SUDUTBERITA.com – LAMPUNG UTARA | Bepergian keluar kota merupakan salah satu kebutuhan bagi para pekerja. Namun demikian dimasa pandemi covid-19 masyarakat harus memperhatikan dan mematuhi protokol kesehatan sesuai anjurkan pemerintah.

Sangat disayangkan anjuran Pemerintah terkait protokol kesehatan yang seharusnya ditaati justru disalah gunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab guna mendapatkan keuntungan pribadi dan merugikan orang lain.

Seperti yang dialami Zubir Kholis (40) warga desa Surakarta (Surajaya) kecamatan Abung Timur kabupaten Lampung Utara, Ia mendatangi kantor Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) DPC kabupaten Lampung Utara untuk menceritakan kronologi kejadian harus membayar surat Rapid Test Covid-19 (Antigen) yang diduga palsu.

Kepada awak media diterangkan Zubir, pada saat itu dirinya akan melakukan perjalanan keluar kota dengan tujuan bis menuju Jakarta, ia menaiki bis dengan merek Kinanti. Perusahaan angkutan bis tersebut diketahui berasal dari desa Subik kecamatan Abung Tengah kabupaten Lampung Utara. 

Foto : Surat Rapid test yang diduga palsu

Ia menaiki bis PT. Semi Jaya (Kinanti) tersebut pada tanggal 11 Agustus 2021 di Bernah kemudian berhenti sementara di loket Kalibalangan. Penumpang yang diperkirakan sebanyak 30 orang langsung dimintai KTP oleh kondektur, dengan alasan untuk membuat surat tes covid-19.

“Kami dimintai KTP kemudian tidak selang berapa lama KTP kami dikembalikan berikut diberikan surat hasil pemeriksaan laboratorium bahwa saya negatif covid-19. 
Dengan tanpa tes sama sekali, karena saya hanya diam didalam bis, saya dimintai uang bayaran atas surat bebas covid-19 tersebut sebesar 80 ribu rupiah.”terangnya. Selasa 14/9/21

Sedangkan surat hasil tes covid-19 yang disimpan Zubir dan para penumpang lainnya yang diduga palsu tersebut memakai logo Rumah Sakit (RS) Medika Insani yang beralamatkan dijalan Sumber Jaya Kecamatan Bukit Kemuning kabupaten Lampung Utara.

Ketika dikonfirmasi oleh tim PWRI, Idrus pemilik usaha bis tersebut menerangkan bahwa dirinya sama sekali tidak mengerti terkait surat  Rapid Test Covid-19 (Antigen) yang di maksud.

“Kalau masalah surat di jalan saya samasekali tidak mengerti. Cuma saya selalu berpesan kepada mereka (sopir-kondektur) agar tidak melalukan hal-hal yang tidak baik”ujar Idrus.

Adapun Surat Rapid Test Covid-19 (Antigen) yang diberikan kepada penumpang bis pada saat itu bermerk RS Medika Insani beralamatkan di kecamatan Bukit Kemuning Kabupaten Lampung Utara. Didalamnya tertera barcode dan tertulis sebagai nama Leni Susrianti, Amd.Ak sebagai pemeriksa dan penanggung jawab.

Untuk diketahui sebelumnya pada tanggal 22 April setiap orang yang ingin menyeberang melalui Pelabuhan Bakauheni Lampung diwajibkan menunjukan surat negatif Rapid Antigen/PCR atau GeNose C19. (SB/Pwri-tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *