SUDUTBERITA.com – KUTAI BARAT (Kaltim) | Di rumahnya, Pegalaq, kampung Keay kecamatan Damai sepasang suami istri terus menunggu bantuan medis. Sebab keduanya sama-sama terkonfirmasi positif covid-19 dan menjalani isolasi mandiri. 

Hanya saja kondisi sang suami memburuk dan mengalami sesak napas.

Sebelumnya Alsiyus, Admin grup sosial media Keluhan & Saran Warga Kubar & Ibukota NKRI menyebut ada pasien Covid yang sedang memerlukan penanganan medis.

“Tolong hubungi tim medis covid karena ada pak Pendeta pasien isoman covid mengalami sesak nafas berat,”ucapnya melalui sambungan telepon kepada media ini. Jumat 17/9/21 sekira pukul 11.00 WITA.

“Istrinya sudah 11 hari terpapar. Klu bisa kemana bisa minta oksigen saja dan tetap isoman,”lanjut Alsiyus karena pasien trauma akan pemberitaan media terkait buruknya layanan RSUD HIS dalam tangani pasien covid-19.

Namun awak media tetap meminta dan membujuk agar pasien dibawa ke Rumah Sakit dan memastikan akan mendapat layanan yang maksimal.

Sekira pukul 12.30 WITA. Alsiyus kembali mengabarkan bahwa pasien semakin mengalami sesak nafas, selanjutnya awak media ini berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Kutai Barat dr Ritawati Sinaga dan Kepala Puskesma Damai Silvia.

Beruntung, saat Awak media SUDUTBERITA.com bersama Bung Alsiyus sampai di rumah pasien sudah ada dua tenaga kesehatan yang ikut memantau kondisi pasien. 
Kebetulan kedua nakes itu sedang berkunjung mengantar logistik karena berteman baik. Namun demikian karena keduanya datang tanpa APD sehingga tidak berani mengadakan tindakan kontak langsung dan hanya membelikan oksigen dan oxymeter yang diserahkan ke istri pasien untuk membantu pasien pria.

dr Rita, saat dihubungi melalui sambungan selular, ia tengah mengikuti kunjungan bupati Kutai Barat FX.Yapan ke kampung Muara Tae Kecamatan Jempang untuk meninjau sekaligus menyerahkan bantuan untuk korban banjir, Jumat (17/9/2021) pagi.

Foto : dr Ritawati Sinaga saat memberi arahan kepada bawahannya

Ketika ia mendapat laporan ada pasien positif covid-19 di Pegalaq Kampung Keay kecamatan Damai dengan kondisi sesak napas. Ia kemudian mengarahkan untuk menghubungi petugas di Puskesmas Damai.

Seusai dikabarkan ada pasien covid yang perlu tindakan, Silvia, Pimpus Damai kemudian memerintahkan supir ambulance untuk langsung ke alamat pasien.

Kadis Kesehatan yang sedang dalam perjalanan pulang dari Kecamatan Jempang akhirnya meninggalkan rombongan bupati dan memilih langsung ke rumah pasien.

Setibanya di lokasi dr Rita langsung menginstruksikan bawahannya untuk segera membawa mobil ambulance Covid-19 Dinkes Kubar karena merasa terlalu lama menunggu ambulance PKM Damai. Sekitar 15 menit kemudian satu mobil ambulance dari Dinkes pun tiba.

Dua nakes bergegas memakai Alat Pelindung Diri (APD) yang diambil dari mobil ambulance covid.

Foto : Nakes memasukkan pasien ke dalam ambulance covid Dinkes

Nampak pasien lelaki tanpa mengenakan baju yang tengah menjalani isolasi mandiri langsung dibawa dengan mobil ambulance ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Harapan Insan Sendawar di pusat ibu kota kabupaten.

“Kita berkoordinasi kemudian ke lapangan kita cek. Pasien tersebut telah dilakukan penanganan pertama disini untuk perbaikan keadaan dengan memberikan oksigen dan mengukur saturasinya.
Ternyata rendah, 87 tadi saturasi oksigennya. Dan kita putuskan bawa dulu untuk memperbaiki keadaanya ke rumah sakit. Nanti dicek di sana, apakah isoman atau dirawat,”ujar dr Rita saat ditanya awak media sambil terus menginstruksikan dua nakes dan supir ambulance untuk segera berangkat.

Menurut Ritawati Sinaga sesuai Standar Operasional dan Prosedur (SOP), seharusnya petugas medis dari wilayah setempat yang bertanggungjawab.
Namun karena pasien membutuhkan pertolongan darurat, maka siapapun petugas terdekat wajib memberi bantuan. 

“Sebetulnya ini adalah tanggungjawab wilayah setempat yang ada puskesmas tetapi kita tidak pakem kesitu. Kita satu tim satgas yang solid antara kecamatan dan kabupaten. Kita berusaha untuk menolong masyarakat dulu ke rumah sakit sekalian edukasi,”katanya.

Dokter yang pernah memimpin puskesmas Melak itu mengapresiasi dua nakes yang sebenarnya tidak bertugas bahkan tidak memakai APD ikut membantu pasien. Sebab dua nakes wanita itu adalah petugas dari Puskesmas kampung Besiq Kecamatan Damai.

“Kita memang sudah biasa begitu. Mungkin naluri kita, tanggungjawab kemanusiaannya. Kita bahu membahu saling menolong,”terang Rita.

Dengan tegas dia meminta kepada masyarakat jangan takut berobat di fasilitas kesehatan. Terutama yang memiliki gejala batuk atau sesak napas.
Ia juga menepis anggapan pasien sengaja dicovid-kan. Sebab petugas bekerja sesuai SOP berdasarkan standar Kementerian Kesehatan dan badan Kesehatan dunia (WHO).

“Jangan takut. Tidak ada nanti kami mengcovid-kan. Nanti disana diperiksa, diswab, diobatin. Jika memang positif pasti akan dikasih obat lebih khusus lagi,”tegasnya meyakinkan.

“Dan jangan lupa untuk tetap dengan protokol kesehatan secara disiplin dan ketat,”tutup Rita.

Sementara itu di tempat yang sama, Alsiyus tokoh muda Kutai Barat yang aktif di media sosial, mengaku puas dengan layanan tenaga kesehatan karena bertindak cepat saat diberitahu ada pasien covid yang perlu segera mendapatkan penanganan medis.

Foto : Alsiyus tokoh muda Kubar dan pegiat sosial media

“Bagus, ini pelayanan cukup cepat yang saya lihat.
Ya hari ini saya puas dengan layanan ini.”ucap Alsiyus sembari mengucapkan terimakasih kepada Kadiskes Kubar yang lewat untuk meninggalkan lokasi.

Diceritakan Alsiyus, sebelumnya dia dihubungi lewat telepon oleh kerabat pasien terpapar covid yang memerlukan pertolongan medis.

“Ada Pak Ridho dia sakit covid, dia sudah tidak tahan isoman karena semakin meningkat sesak napasnya jadi panggil tenaga medis. Kebetulan Ibu Kadis datang langsung, dari Puskesmas datang juga bisa tertangani dengan baik terima kasih kepada semua pihak.”pungkas Alsiyus

Nampak mobil Ambulance segera mengantar pasien ke RSUD HIS sekitar pukul 15.30. Sedang mobil ambulance PKM Damai yang juga sudah datang langsung kembali ke Damai

Dalam pantauan media ini, setibanya di RSUD HIS, pasien langsung dibawa ke Instalasi Gawat Darurat khusus covid.

“Biasanya pasien akan masuk dari ruangan belakang (ruang khusus pasien covid-19) karena sudah positif terkonfirmasi. Nah ini kan pasiennya sudah positif dari tanggal 8 menurut operan dari perawat yang dari Puskesmas Damai.
Jadi pasiennya dimasukkan ke sana, kami observasi sambil ambil darah terus nanti akan dikonsultasikan dengan dokter penyakit dalam,”ucap dr Junita  Matondang, dokter umum yang tengah bertugas jaga shift sore di ruang IGD RSUD HIS.

Di ruang IGD, pasien akan dilakukan observasi oleh nakes dan dokter penyakit dalam. Nantinya dokter akan memberikan terapi.

“Nanti diobservasi kembali jika keadaan pasiennya SPO2 dibawah 80 itu tidak buru-buru kami antar. Karena enggak mungkin diantar dalam kondisi begitu. Harus distabilkan dulu terus menanyakan juga di ruang isolasi covid full atau tidak,”sambungnya

Junita  mengatakan, jika saturasi oksigen diatas 95 maka pasien boleh pulang atau menjalani isolasi mandiri. Namun terkadang ada pasien yang memaksakan diri pulang dengan alasan tidak ada dampingan keluarga.

“Tapi kebanyakan pasien kami ini merasa khawatir terkadang karena tidak ada keluarga. Tapi kekawatiran itu terkadang pribadi sih. Ada yang kalau enggak ada keluarganya nyaman aja, karena ada juga perawat dan nakes lain yang di ruang isolasi covid.
Dan yang pulang itu memang kalau yang sesak gejala berat nggak lama satu atau dua hari bahkan pulang pagi siang atau sore nya sudah kembali lagi, akhirnya rawat inap. Banyak yang begitu,”katanya.

Dia tak menampik jumlah nakes memang tak sebanding dengan jumlah pasien yang ada. Kondisi itulah yang terkadang membuat pasien merasa tak terurus.

“Jadi kami bisanya memberi pengertian, dan ada juga kok pasien itu sendiri yang maklum. Ada juga yang mungkin sudah mendengar berita itu jadinya merasa ragu-ragu,”sebut dr Junita Matondang.

Meski diawal terjadi pandemic banyak nakes kuatir, namun para nakes tetap semangat karena nasib pasien ada di tangannya.

“Kami sudah enggak lagi sih (takut). Mungkin tahun 2019 yang begitu ya, kalau sekarang ini kami nggak (takut berlebih). Bahkan kami bukan merasa nanti kami nggak kena covid bukan, tapi kami berusaha karena kalau kami panik, gimana lagi dengan pasien itu, apa lagi keluarganya,”ungkap dr Junita.

Foto : dr Junita Matondang, dokter jaga shift sore di UGD RSUD HIS

Selain itu para nakes pun harus membuang rasa takut, apapun kondisi pasien. Mereka juga tidak membeda-bedakan pasien corona maupun pasien umum.

“Kami sebenarnya tetap ada (kekuatiran) tapi seiring dengan waktu kami merasa kalau kami sendiri takut, gimana keadaan kami nanti bisa tenang menangani pasien, sementara ini sudah pandemik.
Jadi kami harus lebih care lagi, menganggap tidak ada perbedaan sih. Biar dia covid maupun tidak covid kami berharap bisa menangani dengan baik,”imbuh dokter wanita yang pernah bertugas di PKM Resak kecamatan Bongan.

Sebenarnya, kata Junita disamping bertanggung jawab menangani pasien secara maksimal, disaat bersamaan mereka sendiri ikut bertarung nyawa. Untuk itu ia juga menyesalkan adanya anggapan miring nakes bekerja setengah hati.

“Jangan nanti yang enggak mengerti itu yang paling vokal gitu, yang paling banyak memberikan informasi yang kurang jelas. Sejauh ini kalau kami sama dokter penyakit dalam khususnya karena mereka yang menangani, mereka juga selalu berupaya kok. Gimana pasien itu biar cepat sembuh,”terangnya.

Dokter Junita Matondang juga meluruskan soal dugaan pasien covid-19 meninggal karena over dosis obat. Menurutnya di seluruh faskes yang ada bahkan seantero Indonesia, pemberian obat untuk pasien covid-19 pasti lumayan banyak. Dan itu bukan hanya di RSUD HIS.

“Tapi memang mungkin dengan beredarnya berita itu kami harapkan janganlah tidak mau untuk berobat. Karena tidak berobat tidak akan pernah berakhir pandemik ini.”lanjutnya.

Junita juga memastikan pemberian obat kepada pasien covid sesuai standar dan terukur bagi pasien termasuk pasien comorbit.

“Pemberian obat yang sesuai dengan terapi dan indikasi dan jumlah tabletnya itu memang itu seluruh Indonesia juga mengkonsumsinya. Bukan hanya di HIS yang menyatakan jumlah dosis obat yang besar itu bikin masalah, nda. Itu kan sudah di pastikan sama dokter penyakit dalam gimana dari efek sampingnya dan penanganannya,”jelas wanita yang sudah 9 tahun mengabdi sebagai nakes.

Mengakhiri keterangannya dr Junita berpesan kepada masyarakat, jangan takut pergi ke PKM saat sakit, sebab faskes tidak mungkin mengcovid-kan pasien tanpa hasil medis yang jelas. 

“Ya kami selaku nakes berpesan janganlah takut karena walau ada satu dua pasien mungkin yang merasa tidak nyaman, tapi masih banyak pasien yang sembuh dan pulang. Kami juga berusaha kalau misalnya positif ya mari berobat sebisa mungkin sama-sama kita memberantas yang ada covid.

“Dan juga ingat prokesnya. Kadang-kadang juga keluarga pasien dengan alasan buru-buru nggak bawa masker dan segala macam. Dan kami harapkan kalau ngantar pasien itu tidak perlu beramai-ramai karena daerah ini kan terinveksi covid,”pungkas Dokter kelahiran 35 tahun lalu. (SB/PSB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *