SUDUTBERITA.com – Kutai Barat | Namanya Yahya Tonang Tongqing, sosok sederhana yang tak mengenal rasa takut saat beracara di ruang sidang pengadilan.

Jangan pernah takut. Karena pada saat kita merasa yakin bahwa memang kita melakukan hal yang benar, saya pikir walaupun musuh kita banyak masih ada harapan untuk kita bisa menegakkan keadilan itu,” ungkap Yahya Tonang saat diwancarai media SUDUTBERITA.com setelah usai mengikuti sidang Pengadilan Negeri Kutai Barat sebagai Penasehat Hukum dalam sebuah kasus. Selasa, 27/04/21.

Ia adalah sosok pribadi sederhana dan multi talenta. Selain jadi seorang pengacara handal dia juga ahli mesin diesel

Yahya Tonang Tongqing, Pria keturunan suku Dayak Benuaq Kutai Barat (Kubar) Kalimantan Timur yang dulunya hidup di daerah pedalaman kini malah jadi ahli mesin dan pengacara hebat.

Pria usia 40 tahun dengan sapaan akrab Tonang, lahir di kampung Lambing Kecamatan Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat. 

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG) Samarinda tahun 2013 itu, Ia mengaku sangat termotivasi dengan pesan seorang Perwira tinggi polri berpangkat Jenderal bintang dua, yaitu Irjen Pol. Martuani Sormin Siregar M.Si. (Red: sejak 24 Februari 2021 menjabat sebagai Koordinator Staf Ahli Kapolri.)

Pertemuannya terjadi pada saat Yahya sedang membela klien nya berperkara melawan salah satu perusahaan tambang batubara besar di Samarinda, dan pada akhirnya ia memenangkan perkara dalam sidang yang dihadapinya.

Ketika itu pak jendral berpesan;
“Kamu harus jadi anak Dayak yang berhasil dan sukses menegakkan hukum terutama bagi kaum yang tertindas.” kata Tonang mengutip pesan motivasi dari Irjen Pol. Sormin.

Pria low profil ini memiliki motto dalam hidupnya, 
“Walaupun saya harus berhadapan dengan raksasa goliat sendirian, kebetulan, mohon maaf saya seorang Kristiani, karena di dalam alkitab, seorang Daud yang kecil mampu mengalahkan raksasa Goliat. Kenapa saya tidak?,
Dan itu juga terjadi kepada kawan-kawan saya yang seperjuangan, entah itu aktivis entah itu sama-sama advokat.” tuturnya.

Namun demikian, perjalanan karirnya tidak segampang membalikkan telapak tangan. 

Terlahir pada tahun 1980-an, ketika itu kampung Lambing hanyalah sebuah dusun kecil tanpa polesan moderenisasi dan teknologi modern seperti saat ini.

Hidupnya ditempa oleh alam dan didikan orang tuanya yang adalah seorang pendidik. 

Ayahnya adalah seorang guru dan harus berpindah-pindah tempat tugas yang membuat Yahya kecil belajar banyak hal. 

“Terus terang memang kami berasal dari keluarga sederhana karena ayah saya hanya seorang guru SD dan ibu saya cuma ibu rumah tangga. Dulu ayah saya mengajak kami tinggal di kota di Tenggarong waktu itu saya masih umur 2 tahun dan itu kami pindah dari satu tempat ke tempat yang lain ngontrak, sangat susah tahun 80-an,” cerita Yahya Tonang.

Ayahanda Tonang menjadi motivator bagi dia. Meskipun dalam kesulitan, Ayahanda Tonang tidak mau hidup putra putrinya kelak tambah susah. Oleh karenanya ia terus memotivasi Tonang dan empat anak lainnya agar tidak patah semangat.

“Walaupun lebih banyak makan ikan asin daripada makan yang segar, tapi ternyata perjuangan beliau sangat luar biasa. Dan itu juga yang menjadi motivasi saya bahwa saya harus bisa besar walaupun saya asal muasalnya memang dari perkampungan yang boleh dikatakan pada waktu itu ya terisolasi,” ungkapnya.

Lanjut Tonang bercerita, bersama keluarganya, akhirnya pindah ke Tenggarong, kemudian bersekolah di SD 030 stadion Rondong Demang Tenggarong Kutai Kartanegara. Dia lulus SD Tahun 1994 dan melanjutkan Pendidikan SMP Negeri 1 Tenggarong dan lulus tahun 1997.

Menempa pendidikan, ia melanjutkan ke Sekolah Tehnik.
Ketrampilannya di dunia otomotif mulai nampak ketika dia masuk Sekolah Teknologi Menengah (STM) Negeri Samarinda yang kini jadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di tahun 2000. Mengembangkan ilmunya, setelah lulus langsung bekerja pada sebuah workshop yang menangani mesin-mesin diesel.

“Disitu saya bekerja kemudian saya lihat setiap masalah yang ditangani bengkel lain tidak selesai, kemudian saya perbaiki ternyata berhasil,” ucap Tonang.

Bahkan dalam satu peristiwa maut, Tonang berhasil menyelamatkan kapal yang hampir tenggelam akibat mati mesin. Alhasil mesin kapal kembali hidup dan menyelamatkan nyawa penumpang.

Menerapkan ilmu tehniknya ia sering ber-eksperimen, saat mobilnya rusak di bagian elektriknya, ia mendapatkan tantangan baru karena harga sparepart sangat mahal. Kemudian ia mengakali dengan membuang elektriknya dan menggantikan dengan sistem manual. 

“Itu kalau sistem elektriknya rusak bisa saya modif secara manual dan berhasil jalan normal,” katanya.

Pengalaman di bidang tehnik ia sinergikan dengan kemampuan bongkar pasang kasus di dunia peradilan.

“Artinya Pekerjaan saya sebagai seorang teknisi itu juga menyelesaikan sebuah masalah. Nah kemudian saya di advokat menyelesaikan masalah manusia. Itulah yang saya lihat dua sisi ini sebenarnya sama-sama menarik. Sampai sekarang masih di tekuni dan kalau tidak ada sidang saya di bawah kolong mobil,”cerita Tonang terkait hobi dan profesinya.

Karena tertantang saat itu keluarganya mengalami sebuah kasus hukum, itulah yang mendorongnya mengawali memasuki profesi sebagai seorang lawyer. Ketika itu pengertian masyarakat awam adalah apabila ada orang yang ditangkap oleh aparat, apapun macam alasannya itu ya pasti bersalah.

“Memang ada asas praduga tak bersalah, tapi waktu itu saya baca-baca referensi kok kayaknya nggak ada orang bebas. Ya begitulah yang sering terjadi,” ucap Tonang.

Setiap kali membaca di koran dan melihat orang ditangkap aparat pasti dihukum, entah itu hukuman ringan maupun berat. 

Berangkat dari situlah Tonang mulai berpikir untuk kuliah hukum. Ini titik awal mula yang mendorong semangatnya ingin menjadi seorang advokat.

Selanjutnya 2009 ia tercatat sebagai mahasiswa fakultas hukum pada Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG) Samarinda dan lulus tahun 2013. Mendapatkan hak untuk menjadi seorang advokat setelah dilantik pada tahun 2016.


Debutnya dalam dunia peradilan sebagai seorang pengacara, dimulai saat dia membela seorang yang dituntut 13 tahun dan di vonis bebas.

“Tahun 2016 saya membebaskan orang yang dituntut 13 tahun penjara di Pengadilan Negeri Samarinda dengan vonis bebas dan pulang.” cerita Tonang.

Dilanjut tahun 2017 saat diberikan perkara di Pengadilan Negeri Tenggarong, klien nya diancam 2,5 tahun juga divonis bebas.

Kemudian di tahun yang sama mendekati tahun 2018 di Pengadilan Samarinda juga membebaskan seseorang yang dituntut 2.5 tahun dalam kasus penggelapan uang ratusan juta juga divonis bebas.

Di Pengadilan Negeri Sangatta, dia terpaksa mendampingi seseorang dari luar persidangan karena terlambat untuk bisa mendampingi dalam sidang.

“Kebetulan saya menangani perkara di sana dan ada seseorang yang minta bantuan, tapi karena ia terlambat minta didampingi, mau tidak mau saya terpaksa tidak mendampingi dia 
dalam persidangan. Hanya mendampingi dari luar saja artinya saya duduk di dalam ruang sidang tapi hanya sebagai pengunjung. Nah kemudian waktu itu saya membantu dia untuk membuatkan pledoinya, dan ternyata diterima oleh Hakim. Dia juga divonis bebas. Ketika itu dia dituntut 4 tahun penjara.” tutur Tonang.

Sementara untuk yang kelima di wilayah hukum Pengadilan Samarinda, perkara selesai sebelum sampai ke persidangan ternyata sudah bisa di-SP3 kan karena memang tidak terbukti.

“Sebenarnya kalau mengikuti dari beberapa perkara yang saya tangani itu, memang sudah lebih dari 8 kali, tapi yang lain itu bisa selesai dan tidak sampai ke proses persidangan,” papar Tonang.

Saat ditanya apa kegiatan di Kutai Barat saat ini, ia menyebut sedang menangani sebuah perkara.

“Sekarang ini saya lagi menangani perkara di Kutai Barat. Dan kalau memang Tuhan berkehendak dan memang ternyata saya bisa buktikan bahwa terdakwa tidak bersalah, maka orang ini mudah-mudahan bisa saya bebaskan.” tegasnya mengakhiri wawancara.

(SB-PSB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *