SUDUTBERITA.com – Kutai Barat | Saksi Jaksa Penuntut Umum, Fitriani Hana malah terkesan meringankan terdakwa Kasus STNK Bodong saat menjawab pertanyaan Jaksa, Pengacara dan para Hakim.

Fitriani dihadirkan dalam sidang oleh Jaksa Penuntut Umum pada sidang kedua dalam Perkara tindak pidana pemalsuan surat kendaraan di Pengadilan Negeri Kutai Barat yang digelar Kamis 22 April 2021.

Dia dihadirkan dalam sidang oleh Jaksa Penuntut Umum karena diduga mengetahui pembuatan surat palsu yang dituduhkan ke terdakwa Sandy Stepanus.

Namun, saat dicerca pertanyaan oleh Jaksa, Pengacara dan para Hakim, saksi Fitri justru jawabannya terkesan meringankan terdakwa.

Dalam kesaksiannya Fitriani mengaku dia memang mengambil STNK tersebut karena diminta oleh Marwah (istri terdakwa Sandy Stepanus) sebab dia bekerja sebagai kurir atau jasa ambil / antar barang.

Adapun alasan dihadirkannya perempuan yang kesehariannya berprofesi sebagai penyedia jasa layanan antaran (kurir) online itu oleh JPU Kejari Kubar karena dia adalah orang yang pertama kali diketahui mengambil dokumen berupa Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) yang diduga palsu di kantor TIKI Barong Tongkok. Dan yang kemudian mengantarkan ke rumah Sandy Stepanus dengan alamat di Sumber Bangun kecamatan Sekolaq Darat.

Ketika dikonfrontir dengan sejumlah pertanyaan oleh JPU Muhamad Fahmi, Pengacara Bambang Edy Dharma serta 3 hakim yang dipimpin Jemmy Tanjung Utama seputar alasan dia mengantar STNK, kedekatan dia dengan terdakwa maupun istri terdakwa hingga informasi soal STNK.

Fitri menyebut dirinya adalah penyedia jasa antaran online yang jasanya sering dipakai oleh Marwah.
Bahkan selain menggunakan jasa kurir-nya, Marwah juga menggunakan alamat rumahnya sebagai alamat penerima pengiriman barang, namun demikian nama penerima kiriman tetap atas nama Marwah.

Fitri menegaskan tak tahu menahu soal isi paket yang diambilnya. Dia baru tahu justru ketika ditanya petugas loket ekspedisi yang bertanya apakah dokumen yang diambil adalah STNK.
Saat itu Fitri langsung menelpon Marwah dan dibenarkan oleh Marwah jika barang yang dikirim memang STNK.
Setelah barang ditangannya, dia langsung mengantar ke rumah Marwah dan tidak membuka isi paket.

Yang menarik perhatian adalah terungkap fakta soal waktu pengambilan, sebab dalam resi pengiriman yang ditujukkan jaksa dihadapan Hakim ternyata tertera tahun 2021, yang kemudian justru dibantah oleh Fitri karena seingatnya, dia mengambil paket itu sekitar tahun 2019.

“Kok 2021? Saya tidak pernah ambil tahun 2021, seingat saya tahun 2019 tapi tanggalnya saya lupa,” tanya balik Fitri dengan raut bingung.

Tentang hubungannya dengan terdakwa Sandy Stepanus, Fitri mengaku hanya sebatas kenal dan tidak tau pasti apa pekerjaannya.
Sementara dengan istri terdakwa sudah kenal dekat sekitar 15 tahun. 

Oleh karenanya, merasa istri terdakwa teman dekat, Fitri pun mengijinkan saat alamat rumahnya dipakai Marwah sebagai alamat penerima  pengiriman barang dari luar daerah. 
Juga, diketahui oleh Fitri bahwa Marwah adalah sebagai penjual sepatu / krim hingga obat herbal secara online.

Sebagai kurir yang melayani jasa antaran, ia sudah menjadi kurir langganan istri terdakwa.

“Saya bawakan surat itu karena istri terdakwa ini meminta saya antar kan ke rumahnya. Terus alamat rumah saya ini diminta sama Bu Marwah untuk alamat pengiriman barang itu. Jadi bukan saya yang pesan tapi Bu Marwah yang pesan,” katanya.

Saat ditanya jaksa / hakim maupun pengacara besaran uang uang biaya pengiriman, Fitri menyebut hanya mendapat bayaran antara Rp. 15 -20 ribu.
Kadang ia mendapat tambahan ketika jumlah barang yang diambil dalam jumlah yang banyak / besar.

Kesaksian wanita yang beralamat di RT.02 Kampung Sumber sari kecamatan Barong Tongkok ini seolah membantah adanya indikasi pembuatan surat palsu yang dituduhkan ke terdakwa Sandy Stepanus, sebab kesaksiannya hanya seputar proses awal pengambilan paket yang baru diketahui melalui petugas ekspedisi yang disebut sebagai STNK hingga sampai ke tangan Stepanus melalui istrinya.

Sedangkan soal benar dan tidaknya Stepanus sebagai pembuat surat palsu sama sekali di luar pengetahuannya.

Sementara itu secara terpisah, Marwah istri terdakwa saat dikonfirmasi oleh media ini tentang kenapa memakai alamat orang lain untuk alamat penerimaan paket, ia menyebut hanya untuk mempercepat waktu penerimaan kiriman barang saja.
.
“Selain Fitri sebagai kurir langganan untuk mengambil dan mengantar barang dagangan saya, saya pakai alamat rumahnya untuk alamat penerima paket karena alasan kecepatan waktu.” sebut Marwah.

Lebih lanjut kata Marwah,
“Kalau memakai alamat rumah saya bisa selisih waktu 3-4 hari. Walaupun dekat Dengan Barong Tongkok, tempat saya ikut kecamatan Sekolaq Darat. 
Hal ini menyebabkan penerimaan paket akan lebih lama.
Apalagi usaha saya adalah toko online (online Shop) yang memerlukan kecepatan waktu untuk para pelanggan saya.” terang Marwah.

Hakim ketua Jemmy Tanjung Utama memutuskan sidang ditunda dan dilanjutkan Kembali tanggal 26 April, bahkan rencananya sidang akan berlangsung maraton hingga vonis.

Untuk persidangan selanjutnya Jaksa Penuntut Umum memastikan akan memanggil saksi-saksi lainnya, karena saksi yang dihadirkan pada sidang kedua ini hanya satu orang.

(SB-PSB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *