SUDUTBERITA.com Kutai Barat (Kaltim) |Setelah berulang kali merasa dibohongi oleh PT Bangun Olah Sarana Sukses (BOSS) dalam hal pelunasan uang ganti rugi lahan yang telah lebih lima tahun ditambang, akhirnya warga Kampung Dasaq, Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur menutup total semua kegiatan penambangan perusahaan tersebut. Jumat, 21/08/2020.

Lebih lima tahun menunggu pelunasan ganti rugi lahan yang tak kunjung selesai dilunasi, akhirnya warga Kampung Dasaq meminta pendampingan kepada DPC Gerakan Pemuda Asli Kalimantan (GEPAK) Kubar, Pokdar Kambtibmas Bhayangkara Resor Kutai Barat, dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) A. Johnson Daud SH, M.Hum dan Rekan  mengadakan pertemuan dengan perwakilan manajemen PT BOSS.

Namun setelah lebih tujuh kali diadakan pertemuan belum juga membuahkan hasil. 
Bahkan dalam kesepakatan yang difasilitasi dan dipimpin langsung oleh Kapolres Kutai Barat AKBP Roy Satya Putra SIK, M.Hum di Mapolres Kutai Barat, Rabu 29/07/2020, bahwa pihak PT BOSS berjanji akan membayar pada Jumat 07/08/2020. 
Ternyata sampai batas waktu yang ditentukan juga belum direalisasikan.

Dalam pertemuan di kantor  PT. BOSS Site Dasaq (21/8/2020), Matias Genting SH, Ketua DPC GEPAK Kubar yang juga sebagai Ketua Pokdar Kamtibmas Bhayangkara Resor Kubar menyatakan, karena perusahaan tidak mengindahkan tuntutan masyarakat dan mengingkari kesepakatan maka seluruh aktivitasnya ditutup total.

“Batas waktu janji pembayaran oleh PT. BOSS telah lewat, dan perusahaan tetap belum membayar maka hari ini Jumat 21/08/2020 seluruh aktivitas PT. BOSS di site Dasaq kami tutup total,” jelas Matias.

Lebih lanjut Matias meminta supaya seluruh tuntutan warga dibayar sekaligus.
 “PT. BOSS dipersilahkan melakukan aktivitasnya setelah melunasi seluruh kewajibannya. Dan kami minta tidak ada perbedaan antara kewajiban PT. BOSS dan PT. Pratama Bersama (PB). Tuntutan masyarakat sebesar 2.7 milliar rupiah harus dibayar sekaligus. Karena manajemennya sama.” tegas Matias.

Sekretaris Pokdar Kamtibmas Bhayangkara Sarjodi SH, yang juga perwakilan LBH A. Johnson Daud menambahkan bahwa Warga Dasaq dan Lembaga yang mendampingi tidak mengusir karyawan.
“Masyarakat dan Gepak tidak mengusir karyawan PT. BOSS maupun Sub kontraktornya, dan juga tidak menghambat karyawan yang mau pulang,” terangnya.

Lanjut Sarjodi, “Seluruh unit yang ada di area PT. BOSS sepenuhnya merupakan tanggungjawab pemiliknya dan bukan tanggung jawab Gepak maupun masyarakat kampung Dasaq.”

Menurut pantauan langsung SUDUTBERITA.com nampak hadir perwakilan PT. BOSS M. Suseno, dan perwakilan Sub Kontraktor diantaranya: PT. Agasi (Maintenance Unit), PT. Angsa Mas (Catering), PT. Ade (Operator Creasher), PT Iku-KC (Rental Alat Berat). Dari Aparat Kampung: Petinggi, BPK dan Kepala Adat.

Nampak hadir mengamankan, AKP C. Siahaan SIK, Kasat Samapta Polres Kubar, Ipda Suyoto,  KBO Sat Intelkam Polres Kubar, AKP Jumali Kapolsek Muara Pahu, dan sekitar 15 anggota dari polres Kubar dan Polsek Muara Pahu.

(Paul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *